MajalahSultra.Com, — Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, mengungkapkan ibunya kembali menerima teror setelah dirinya mengkritik program Makan Bergizi Gratis. Meski demikian, ia menegaskan tidak gentar menghadapi tekanan trsb.
“Ada tiga teror terbaru yang diterima ibu,” ucap Tiyo.
Ia menjelaskan, teror pertama masuk melalui nomor tak dikenal yg menyebut ada organisasi kemasyarakatan di Yogyakarta akan melaporkannya ke Kepolisian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta atas tuduhan menggelapkan dana Kartu Indonesia Pintar Kuliah.
Teror kedua menyebut ada dosen Universitas Gadjah Mada yg kecewa karena ia diduga menggelapkan dana Kartu Indonesia Pintar Kuliah.
Tiyo membantah tudingan tersebut dan menyebutnya tidak berdasar. “Kemudian teror yang ketiga yg diterima ibu mengatakan kalau pihak kepolisian siap mengusut tuntas kasus Tiyo,” jelasnya.
Ia mengakui sang ibu sempat takut dan khawatir atas keselamatannya.
Namun perlahan ia menjelaskan bahwa kabar tersebut merupakan upaya untk melemahkan dan membungkam kritiknya. Selain dirinya dan keluarga, sekitar 40 pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada juga disebut menerima teror serupa. Mereka menilai tekanan itu sebagai konsekuensi sikap politik yg berseberangan dengan pemerintah.
Sementara itu, Badan Gizi Nasional merespons klaim Tiyo terkait mitra program Makan Bergizi Gratis yang disebut meraup keuntungan bersih hingga Rp1,8 miliar per tahun.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Operasional, Sony Sonjaya, menegaskan klaim tersebut merupakan disinformasi.
“Mitra mendapatkan untung bersih Rp1,8 miliar per tahun adalah asumsi fiktif yang tidak berdasar pada realitas bisnis dan investasi. Padahal, Rp1,8 miliar bukan keuntungan bersih, melainkan pendapatan kotor maksimal,” katanya.
Ia menjelaskan angka trsbt merupakan estimasi pendapatan kotor dari perhitungan Rp6 juta dikalikan 313 hari operasional, sehingga mencapai sekitar Rp1,87 miliar per tahun.
“Angka tersebut bukan laba bersih, melainkan pendapatan sebelum dikurangi biaya investasi, operasional, pemeliharaan, depresiasi, dan risiko usaha lainnya. Untuk memperoleh insentif tersebut, mitra wajib membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi sesuai petunjuk teknis 401.1 tahun 2026 yang menetapkan standar teknis sangat ketat,” ujarnya.
Sony juga membantah isu kepemilikan dapur oleh pihak yang diasosiasikan dengan partai politik tertentu. Ia menambahkan, mitra harus menyiapkan investasi awal sekitar Rp2,5 miliar hingga Rp6 miliar untuk membangun fasilitas sesuai standar, termasuk lahan, dapur industri, pendingin ruangan, kamera pengawas, instalasi listrik tiga fase, sistem filtrasi air, Instalasi Pengolahan Air Limbah, hingga sertifikasi laik hygiene, sanitasi, dan halal.
